Sepenggal Kisah Sejarah Masjid An-ni'mah
TUGAS SEJARAH PERADABAN ISLAM
“ SEPENGGAL KISAH SEJARAH MASJID
AN-NI’MAH “
Disusun
oleh :
Nama
: Anis Alfiah
NIM
: 175231003
Kelas : Perbankan Syariah 1A
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2017
PENDAHULUAN
Tujuan
penulis mengambil tema sejarah masjid karena ingin mengetahui bagaimana sejarah
masjid an-ni’mah yang terletak di desa Trangsan Rt 02/ 05 Tosemi Gatak
Sukoharjo. Selain itu, penulis ingin mengetahui hal apa saja yang unik dalam
masjid tersebut. Dan alasan penulis memilih masjid an-ni’mah yang terletak di
desa Trangsan Rt 02/ 05 Trosemi Gatak Sukoharjo, dikarenakan dekat dengan rumah
dan ada sesuatu hal yang ingin penulis ketahui dalam masjid tersebut. Penulis
ingin menggali informasi yang lebih banyak, agar mengetahui bagaimana sejarah
berdirinya masjid tersebut.
Keunikan
yang ingin penulis jelaskan dalam narasi ini antara lain mengenai benda-benda
yang sudah lama tersimpan di dalam masjid dan juga hal-hal yang unik yang
terjadi di masjid an-ni’mah tersebut. Seperti kejadian yang tidak mengenakkan,
diantaranya adalah pencurian dan lain sebagainya. Selain itu mengenai jamaah
yang datang ke masjid an-ni’mah ini. Termasuk juga, ruang tempat sholat yang
unik posisinya dan tidak pernah berubah-ubah. Dan juga kegiatan yang
diselenggarakan masjid an-ni’mah. Yang kemungkinan tidak dialami di
masjid-masjid yang lain.
Metode
yang penulis gunakan untuk mengumpulkan semua informasi mengenai masjid an-ni’mah
yaitu dengan 2 metode penelitian, yaitu wawancara dan pengamatan secara
langsung (observasi). Penulis mewawancarai seseorang sesepuh dan tinggal tepat
didepan masjid tersebut, yang notabene merupakan pengurus dari masjid an-ni’mah
ini. Orang tersebut bernama Ibu Murohni yang merupakan bendahara dan juga dibagian
pendidikan . Selain melakukan wawancara, penulis juga melakukan observasi
langsumg di masjid an-ni’mah dengan melakukan pengamatan secara langsung dengan
mengamati sarana dan prasarana yang berada dalam masjid tersebut. Dalam
pengumpulan data, penulis sedikit menemui kendala. Dikarenakan, narasumber
sedikit mempersulit dalam proses wawancara yaitu dengan mempermasalahkan surat
tugas dari kampus. Akan tetapi, karena penulis merupakan anak didiknya pada
saat mengaji dahulu yang terjadi adalah narasumber akhirnya bersedia untuk
diwawancarai.
PEMBAHASAN
Sejarah Masjid An-ni’mah
Masjid
An-ni’mah adalah masjid yang terletak di desa Trangsan RT 02/05 Trosemi Gatak
Sukoharjo. Masjid ini letaknya cukup strategis, karena terletak dipinggir jalan
raya. Letak masjid juga berdekatan dengan makam. Letak makam itu persis didepan
masjid. Masjid An-ni’mah dibangun diatas tahah wakaf yang luasnya 600 m2
lalu didirikan sebuah bangunan masjid dengan luas bangunan 400 m2. Bangunan
masjid an-ni’mah cukup besar dan luas.
Masjid
An-ni’mah didirikan oleh keluarga Bapak Suroikah, yang sampai sekarang
kepengurusannya masih turun temurun dari keluarga bapak Suroikah itu sendiri.
Termasuk juga takmir masjid yang sekarang, juga merupakan keturunan dari bapak
Suroikah. Masjid tersebut sudah berdiri sejak tahun 1936. Masjid ini telah
berdiri sejak zaman penjajahan dan pada saat itu negara Indonesia belum
merdeka. Masjid ini juga termasuk masjid tua diantara masjid-masjid yang lain
didaerah tersebut. Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong oleh
masyarakat setempat.
Takmir
masjid yang sekarang adalah bapak H.Suhada. Akan tetapi dikarenakan bapak
H.Suhada sedang sakit, takmir masjid sekarang ini digantikan sementara oleh
anaknnya yaitu Bapak Fauzan. Apabila
bapak H.Suhada sudah sembuh dari sakitnya, kepengurusan akan kembali dialihkan
ke bapak H.Suhada. Pada posisi keuangan (bendahara) dipegang oleh Ibu Murohni,
yang notabennya merupakan adik dari bapak H.Suhada itu sendiri. Selain menjadi
bendahara Ibu Murohni juga diamanahi dibagian pendidikan. Bisa dilihat bahwa
kepengurusan masih satu darah dengan keluarga Bapak Suroikah.
Letak
masjid an-ni’mah berada di sebelah barat rel kereta api dan juga jalan raya.
Jadi, apabila sedang melaksanakan sholat di masjid, suara bising kendaraan dan
juga suara bising kereta api sedikit mengganggu ketika sedang melaksanakan
sholat berjamaah. Terkadang, apabila suara kereta api yang melintas terlalu
keras, suara iman pada saat mengimani sholat berjamaah tidak terdengar. Dan hal
itu mengakibatkan makmum dalam mengerjakan sholat menjadi tertinggal dari
gerakan imam. Hal tersebut sedikit mengganggu dalam kekhusyukan pada waktu
sholat.
Arsitektur Masjid dengan Kearifan
Lokal
Arsitektur
bangunan masjid disertai dengan kearifan lokal budaya jawa, yaitu dengan model
bangunan masjid yang berbentuk rumah joglo. Masjid an-ni’mah berbentuk persegi
panjang, bangunannya menyerupai bangunan rumah joglo. Bentuk atap pada bagian
belakang berundak-undak dengan 1 kubah diatasnya, Kubah juga merupakan salah
satu ciri khas dari sebuah masjid tersebut. Bentuk kubahnya adalah berbentuk
setengah bulat. Seluruh lantai masjid sudah dilapisi dengan keramik.
Hampir
seluruh bangian masjid didominasi dengan warna kuning dan hijau. Hal itu
memberikan kesan keteduhan dan kekokohan dalam bangunan masjid. Seluruh
temboknya juga sudah dilapisi dengan keramik, baik bangian depan maupun bagian
dalam masjid. Warna keramik pada bagian tembok adalah abu-abu dan juga cream.
Warna cat tembok pada bagian pilar masjid yaitu warna kuning. Pada bagian depan
terdapat 3 pintu dan 2 jendela besar. Terdapat 1 pintu utama dan 2 lagi
terletak dikanan dan kiri. Jumlah pintu didalam masjid ada 5 selain 3 pintu
masuk masjid. Jadi, apabila dijumlahkan terdapat 8 pintu di masjid tersebut. Warna
cat tembok pagar depan masjid adalah warna hijau muda.
Ruangan
dalam masjid dibuat tidak terlalu banyak disekat antara ruang yang satu dengan
yang lain. Hal ini dikarenakan agar ruangan dalam masjid terlihat luas dan
lebih lega untuk melaksanakan ibadah. Tidak ada meja dibagian dalam masjid,
hanya ada 1 meja untuk memberi batas/ sekat. Dan biasannya meja tersebut
digunakan untuk mengajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ). Bagian dalam masjid juga
terdapat tempat bagi imam untuk memimpin sholat, dan disampinnya disediakan
mimbar untuk memberikan khutbah kepada para jamaah. Ruangan sholat menghadap
kearaah ka’bah, yang merupakan kiblat sholat bagi orang islam.
Ruangan
dalam masjid an-ni’mah antara jamaah laki-laki dan perempuan diberikan
penyekat. Ruangan dalam masjid an-ni’mah disekat menjadi 3 bagian yaitu Bagian
utama masjid biasanya digunakan untuk jamaah laki-laki. Bagian kedua biasanya
digunakan untuk jamaah perempuan dan biasannya yang memepati bagian ruangan
tersebut adalah para nenek dan sesepuh desa. Dan pada bagian ketiga adalah
digunakan untuk jamaah perempuan serta kebanyakan jamaah pada bagian tersebut
adalah anak kecil. Alasan mengapa anak kecil ditempatkan dibelakang,
dikarenakan anak kecil suka membuat keributan, yang dapat mengganggu jamaah di
masjid tersebut.
Kondisi
masjid an-ni’mah pada zaman dahulu belum sebagus sekarang. Dahulu masjid
an-ni’mah masih terbuat dari kayu jati dan juga masih tertutup dan gelap. Akan
tetapi, sekarang ini sudah bagus dan juga semua kayu diganti menjadi tembok.
Serta, seluruh bagian masjid sudah tidak segelap dulu, sekarang sudah diganti
dengan menggunakan jendela dan pintu kaca yang besar. Jadi kondisi masjid yang
sekarang terkesan lebih luas dan terang. Jamaah yang sholat dimasjid ini pada
zaman dahulu juga belum banyak.
Fasilitas Masjid An-ni’mah
Masjid
dilengkapi dengan fasilitas yang cukup mewadai seperti kipas angin, kamar mandi
yang bersih, tempat wudhu yang banyak, dan juga dihiasi dengan lampu yang
indah. Terdapat juga jam digital yang secara otomatis mengatur semua yang
berkaitan dengan sholat. Selain itu, masjid an-ni’mah menyimpan alas untuk
sholat dalam jumlah yang banyak. Dan
juga terdapat beberapa mukena dan sarung. Sebenarnya masjid tersebut memiliki 2
mimbar, akan tetapi yang layak pakai hanya 1 dan yang satunya lagi sudah tidak
terlalu layak digunakan (rusak). Disebelah tempat Wudhu perempuan terdapat
sebuah lorong, biasanya lorong tersebut digunakan untuk menyimpan alat
kebersihan seperti sapu, pel, sapu lidi dan lain sebagainya.
Masih dalam satu lingkungan masjid,
berhadapan dengan bagungan masjid . Dibangun sebuah bangunan 2 lantai. Pada
lantai dasar (bawah) dulunya diperuntukkan untuk penitipan anak akan tetapi
sekarang sudah beralih fungsi menjadi parkiran. Disamping parkiran terdapat
dua, ruangan yang pertama untuk menyimpan alat-alat musik, yang biasanya
digunakan pada saat takbiran serta terkadang ruangan tersebut bisa digunakan
untuk beristirahat dan bersantai. Disebelah ruangan tersebut juga terdapat
ruangan yang sudah tidak terpakai. Ruangan tersebut digunakan untuk menyimpan
barang-barang bangunan seperti kayu, semen dan lain sebagainya.Yang notabene barang-barang
bangunan tersebut merupakan sisa dari material untuk merenovasi masjid.
Jumlah jamaah yang datang ke masjid
tidak menentu. Jumlah jamaah pada saat sholat subuh biasanya hanya sekitar 3-5
orang, Sholat dzuhur dan Ashar biasanya hanya orang-orang disekitaran masjid
dan juga pendatang dari luar, entah itu datang untuk beristirahat ataupun untuk
singgah dimasjid melakukan ibadah. Pada saat sholat magrib dan isya’ biasannya
jamaahnya yang lumayan banyak. Orang-orang tidak pernah kemasjid biasannya
karena males untuk berjalan menuju masjid. Terutama anak-anak muda sekarang,
apabila disuruh kemasjid pasti sudah tidak mau, dengan berbagai alasan yaitu
karena males, capek, dan lain sebagainnya.
Jamaah
pada saat sholat jum’at cukup banyak, biasannya yang sholat dimasjid ini adalah
orang-orang desa sekitar dan juga orang-orang dari timur rel kereta api. Masjid
ini letaknya di sebelah barat rel kereta api, jadi selain jamaah dari penduduk
sekitar ada juga penduduk desa dari seberang rel. Mereka memilih menyebrang rel
kereta api karena dirasa masjid an-ni’mah lebih dekat dari rumah mereka
dibandingkan masjid daerah mereka. Pada saat sholat tarawih jamaahnya banyak,
dan setiap minggunya itu, jamaah yang datang semakin berkurang. Jamaah pada
saat sholat pada hari besar seperti, sholat idhul fitri dan idhul adha sangat
banyak, bahkan sampai para jamaah sholat di halaman masjid. Dikarenakan
kapasitas masjid sudah tidak mampu menampung jamaah yang ingin sholat di
masjid.
Dibalik Ketegasan Seorang Guru
Kegiatan
rutin yang diadakan di masjid diantaranya adalah : (1) Pengajian rutin seminggu
sekali, tepatnya pada setiap malam jum’at. Penganjian tersebut diadakan pada
setiap malam jum’at dimulai dari sehabis isya’ sampai dengan pukul 21.00. Dan
pada hari kamis malam, pada tanggal 2 November 2017, pengajian rutin tersebut
digelar dengan yang hadir sekitaran 50 orang, (2) Baca Tulis Al-Qur’an yang
dilaksanakan seminggu 3 kali untuk anak-anak. Diadakan pada pukul 15.00-17.00
yang biasanya dipandu oleh Ibu Murohni atau kalau tidak Ibu Meriyah. Biasannya
yang datang pada saat Baca Tulis Al-Qur’an dihari selain bulan ramadhan hanya
sedikit, dikarenakan guru yang mengajar Baca Tulis Al-Qur’an di masjid ini
dirasa galak dan kurang sabar. Akan tetapi, dari sisi kegalakannya tersebut,
guru tersebut menginginkan anak-anak itu mengerti dan paham. Walaupun
penyampaiannya saja yang kurang tepat, (3) Sholat Jum’ah berjamaah dimasjid
an-ni’mah.
Peringatan Hari Besar Umat Muslim
Kegiatan
pada bulan Ramadhan di masjid an-ni’mah, diantaranya adalah sebagai berikut :
(1) Sholat tarawih berjamaah, (2) Tadarus Al-Qur’an sehabis sholat tarawih, (3) Pengajian menyongsong
Nuzurul Qur’an, (4) Baca Tulis Al-Qur’an untuk anak-anak untuk bulan ramadhan
biasanya dilaksanakan setiap hari dari sehabis ashar sampai dengan menjelang
berbuka puasa. Muridnya biasannya lebih banyak dibandingkan bulan selain bulan
ramadhan, (5) Terdakang diadakan lomba untuk anak-anak, seperti menghafal surat
pendek, praktek sholat, praktek adzan, praktek wudhu dan lain sebagainya. Yang
mengadakan kegiatan tersebut biasanya adalah remaja masjid Kharisma (nama
remaja masjid An-ni’mah), (6) Pembagian takjil kepada anak-anak setelah BTQ,
dan kalau tersisa biasanya digunakan untuk berbuka puasa dimasjid, (7)
Biasannya remaja masjid desa tersebut, berkumpul dimasjid untuk membangunkan
orang untuk sahur. Terkadang membangunkan lewat speaker masjid atau biasannya
keliling kampung untuk membangunkan sahur, (8) Pada saat bulan ramadhan
dilakukan acara amal, seperti pemberian santunan kepada anak yatim, piatu,
janda, orang jompo, sebatang kara dan orang-orang yang tidak bisa mencukupi
kebutuhan hidupnya..
Kegiatan
masjid an-ni’mah menjelang dan pada saat idhul fitri, antara lain: (1) Pada
saat malam sebelum idhul fitri biasanya diadakan takbiran keliling. Biasanya
menggunakan mobil pick up untuk berkeliling didesa-desa yang lain, (2) Sehari
menjelang hari raya idhul fitri, biasannya dilakukan penerimaan zakat di
masjid. Rukun ketiga dalam Rukun Islam adalah zakat. Biasannya panitia zakat
diambilkan dari remaja masjid an-ni’mah itu sendiri yang bernama remaja masjid
Kharisma, yang juga dibantu oleh orang-orang yang sudah berpengalaman dalam
mengurusi zakat. Zakat biasannya diperuntukkan bagi orang yang mampu
membayarnya, biasannya zakat fitrah yaitu dengan menggunakan beras per orang
seberat 2,5 kg atau kalau tidak menggunakan uang kalau tahun kemaren sebesar
Rp. 25.000.000,00 per orang, dan biasanya nominal uang untuk zakat itu
berubah-ubah sesuai dengan harga beras pada tahun itu, (3) Sholat idhul fitri diadakan di masjid
An-ni’mah. Biasanya dilakukan pada pukul 06.00 sampai selesai. Sholat Id biasannya
dilakukan di masjid tersebut karena untuk berjaga-jaga agar para muallaf itu
tidak malu untuk berbaraur dengan penganut islam lainnya.
Kegiatan pada saat Idhul Adha adalah
sebagi berikut : (1) Sholat idhul Adha diadakan di masjid. Jamaah yang datang ke
masjid an-ni’mah sangat banyak bahkan biasannya melebihi kapasitas masjid, dan
harus menggelar tikar untuk sholat di halaman masjid, (2) Penyembelihan hewan
kurban dilaksanakan di halaman masjid. Serta dilanjutkan dengan pembagian
daging kurban, biasanya diantarkan dirumah penduduk sekitar masjid dengan
menggunakan mobil pick up, (3) Dilakukan kegiatan memasak di masjid untuk
memberi makan para penyembelih hewan qurban.
Kejadian yang Tak Terduga
Hal-hal
unik yang terjadi di masjid an-ni’mah, diantarannya adalah sebagai berikut: Pertama, Yang paling unik adalah Jama’ah yang datang hanya sedikit pada saat
waktu sholat, pemuda desa tidak ada yang mau sholat ke masjid, padahal
masjidnya besar, bagus, letaknya juga dipinggir jalan raya. Pada saat sholat
subuh biasanya hanya ada 3-5 orang yang ke masjid. Pada saat Dzuhur dan Ashar tidak ada yang mau adzan, akan
tetapi biasanya ada jamaah dari luar yang singgah dimasjid tersebut. Entah
mereka beristirahat ataupun beribadah dimasjid. Pada saat sholat magrib dan isya
jamaah nya lumayan banyak sekitaran 3 shaf sholat laki-laki dan sekitar 1 shaf
perempuan.
Kedua, keunikan
lainnya adalah ketika melakukan renovasi masjid, masjid itu tidak pernah
meminta sumbangan dari siapapun, cara memperoleh dana yaitu dengan mrngumpulkan
dari infak para jama’ah yang datang kemasjid tersebut, dan setelah dikira dana
itu sudah mencukupi untuk merenovasi masjid, pada saat itulah digunakan untuk
merenovasi masjid. Apabila ada yang memberi donasi, masjid tersebut tidak
menolak pemberiaan dari donator tersebut, dengan artian lain donasi untuk
masjid tetap diterima. Akan tetapi, masjid tidak pernah meminta bantuan kepada
siapapun, termasuk juga pemerintah. Dan juga pemerintah belum pernah memberi donasi sama sekali.
Ketiga, banyak terjadi hal-hal yang
meresahkan dimasjid, diantaranya adalah: (1) Terjadi pencururian sandal para
jamaah. Dan belum lama ini terjadi pencurian sandal para jamaah pada saat
sholat jum’at, dan yang hilang adalah 2 pasang sandal yang masih baru, (2) Ada
pencuri yang membuka kotak amal dari masjid daerah lain di masjid ini, dan
kotak amal yang kosong itu ditinggal oleh pencuri di masjid ini. Selain mencuri
kotak amal dari masjid lain, pencuri itu juga mencuri kotak amal masjid ini
juga. Dan mengenai kasus pencurian sandal dan juga kotak amal ini sering kali
terjadi pada masjid ini.
Keempat, keunikan yang lainnya adalah,
terdapat bagian ruangan masjid yang biasannya digunakan untuk sholat. Biasanya
ruangan tersebut digunakan untuk nenek yang sudah sepuh, atau kalau tidak
ibu-ibu paruh baya. Dan setiap sholat tarawih posisinya selalu seperti itu.
Selalu ditempati oleh nenek-nenek ataupun ibu-ibu paruh baya, walaupun
terkadang juga anak-anak muda menempati ruangan tersebut. Tapi hal tersebut,
biasannya jarang untuk dilakukan. Hal itulah yang memjadikan masjid tersebut
unik.
Barang
Antik
Dimasjid an-ni’mah terdapat barang yang unik
yaitu, meja yang diletakkan didalam masjid. Meja itu sudah sangat lama berada
di masjid tersebut, walaupun meja itu sudah tua, akan tetapi meja tersebut
tetap kokoh dan tidak dimakan oleh rayap. Selain itu, ada juga kotak amal yang
berbentuk besar, ukurannya bahkan hampir seperti almari kecil. Akan tetapi,
diatas kotak itu ada lubang kecil. Kotak itu juga sudah lama berada dimasjid
tersebut.
Kelebihan
dan kekurangan dari masjid an-ni’mah adalah diantaranya adalah: Kelebihan, masjid an-ni’mah dalam
melakukan renovasi tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun, akan tetapi
apabila ada yang memberi bantuan diterima. Kekurungan,
yaitu jamaah yang sholat di masjid an-ni’mah hanya sedikit, padahal
masjidnya besar dan juga letaknya strategis. Masjid an-ni’mah
ini tidak pernah disewa ataupun digunakan untuk acara besar, seperti halnya
pernikahan dan lain sebagainnya.
REFLEKSI
Hubungan narasi yang penulis buat
terhadap perkembangan Peradaban Sejarah Islam yaitu, Masjid An-ni’mah didirikan
sebelum Indonesia merdeka. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa,
perkembangan Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW yaitu penyebaran Islam
dilanjutkan oleh para wali. Sedangkan, pada saat sebelum kemerdekaan Islam berkembang
di Indonesia dengan perantara para wali, yang dikenal dengan sebutan
walisonggo. Walisongo menyebarkan Islam dengan cara damai seperti melalui jalur
perdagangan, perkawinan, pendidikan, kesenian dan lain sebagainya. Mungkin
hanya narasi diatas yang dapat penulis uraikan tentang sejarah dan seluruh
kegiatan masjid an-ni’mah .


Komentar
Posting Komentar